4 Komentar Tulisan Afi Siswi SMA Banyuwangi soal Keberagaman





Tulisan Afi Nihaya Faradisa, Tulisan Siswi SMA Banyuwangi, Tulisan Afi Warisan

Afi Nihaya Faradisa, anak muda yang baru saja lulus SMA kini mendadak terkenal. Pasalnya, tulisannya tentang keberagaman mendapat banyak respon. Dia bukan penulis terkenal, apalagi dikenal penulis hebat. Dia hanya seorang anak muda yang hobi menulis. Mungkin setelah ini ia akan menjadi penulis terkenal.

Beberapa hal yang menjadi perhatian saya tentang "Berita tentang Afi", yakni:
  1. tentang belajar menulis
  2. tentang belajar berpendapat/bersuara
  3. tentang berlatih berani terlibat merespon gejala sosial
  4. tentang berlatih memperbaiki keadaan
Tentu Afi sudah lama belajar menulis dan sudah cukup mahir dan tentunya dia juga sudah belajar berpendapat dan sudah banyak berlatih, mungkin. Mungkin juga dia sudah mahir berpendapat dengan baik lewat tulisan dan sudah biasa menerima konsekwensinya.

HANYA ANAK YANG HOBI MENULIS (bukan penulis)?

Afi memang mengagumkan, karena sebagai seorang anak muda yang hanya hobi menulis mempunyai pemikiran yang luar biasa, kata banyak komentator di sosial media. Kalau boleh saya berpendapat, rupanya Afi sudah mulai belajar merespon gejala sosial. Saya katakan belajar karena dia belum ahli. Dia mulai belajar terlibat hiruk-pikuk kehidupan sosial. Mungkin sudah boleh dikatakan lumayan ahli dalam berkomentar.

Menurut ayahnya, Afi lebih suka berdiam diri di dalam kamar dan membaca banyak buku:
"Saya punya akun Facebook, tapi malah tidak berteman dengan anak saya. Baru berteman seminggu terakhir ini. Malah saya pernah diblokir, katanya biar saya enggak tahu statusnya. Saya kaget dan juga bangga," kata Wahyudi.

Menurut dia, aktivitas anak gadisnya sama dengan kegiatan anak-anak seusianya. Hanya saja, Afi lebih suka berdiam diri di dalam kamar dan membaca banyak buku. (Kompas)
Jika dibanding teman-teman sebayanya, tentunya dia kalah pengetahuan tentang gejala sosial karena lebih banyak di dalam rumah dan lebih akrab dengan buku, tetapi bisa jadi dia lebih mampu memahami gejala sosial dibanding teman-teman sebayanya karena dia banyak membaca dan terlatih berpikir.

Beragam tujuan orang dalam merespon gejala sosial baik melalui akun Facebook, blog, twitter, atau secara langsung dengan lisan: ada yang hanya menyampaikan keluhan, ada yang hanya curhat tentang keadaan sosial, ada yang hanya ingin menunjukkan bahwa dirinya banyak tahu, ada yang hanya ingin terlihat sok pintar, ada yang ingin mengajak orang banyak untuk berpikir, ada yang ingin membuat suatu perubahan yang lebih baik, ada yang ingin mendapatkan untung. Tujuan Afi?
"Tujuan saya menulis bukan untuk disetujui, bukan pula mereguk sanjung puji. Jika itu tujuan saya, kan mudah saja. Tinggal menulis hal yang memuaskan semua orang lalu mengalirlah beragam pujian. Bagaimanapun, saya selalu menulis untuk menyampaikan pemikiran, bukan untuk membuat orang-orang terkesan. Seperti kalimat terakhir di tulisan WARISAN, saya hanya ingin mengajak pembaca untuk berpikir... "

"Jika sekarang saya menjadi sorotan, itu sama sekali bukanlah sebuah kesengajaan. Seperti saya yang tidak menyangka bahwa ada orang yang menelepon dengan nomor pribadi pukul setengah tiga pagi, berkata bahwa ia dan kawan-kawannya tidak hanya bisa menghabisi akun saya, tapi juga bisa menghabisi pemiliknya. Mereka menganggap bahwa saya menjadi penghalang sebuah perjuangan di jalan Tuhan.

Saya heran, sebenarnya bahaya apa yang disebabkan hanya dari ajakan seorang anak untuk berpikir?" (Akun Facebook Afi)
Berdasarkan status Facebook yang ditulis Afi tersebut, tujuan Afi menulis adalah untuk mengajak pembaca (masyarakat) untuk berpikir. Apakah sebelum diajak Afi, masyarakat tidak berpikir? Mungkin Afi ingin mengajak mereka berpikir sebagaimana cara berpikirnya Afi?

Jika membaca tulisan Afi yang berjudul WARISAN, yang membuatnya jadi terkenal, Afi mengajak masyarakat untuk berubah. Artinya, menurut Afi mereka salah dan seperti dirinyalah yang benar. Membaca tulisannya, seakan saya dimarahi ibu saya karena telah bersalah. Hehe... Perasaan saya begitu. berikut saya kutip sedikit:
Salah satu karakteristik umat beragama memang saling mengklaim kebenaran agamanya. Mereka juga tidak butuh pembuktian, namanya saja "iman".

Manusia memang berhak menyampaikan ayat-ayat Tuhan, tapi jangan sesekali coba menjadi Tuhan. Usah melabeli orang masuk surga atau neraka sebab kita pun masih menghamba.
Kata Afi "merasa agamanya benar" itu karakteristik, kata dia juga "Manusia memang berhak menyampaikan ayat-ayat Tuhan". Saya pernah berdiskusi dengan teman online di Sri Lanka tentang agama. Dia heran dengan kondisi Indonesia: banyak agama tapi rukun dan aman. Sebagai non-muslim, kata dia, dia wajib menyebarkan agamanya, dan setahu dia, agama lain juga punya kewajiban menyebarkan ajaran agamanya. Kata dia, jika membenarkan agama lain, berarti tidak beriman.

Mungkin kebenaran yang saya maksud dengan kebenaran yang dia maksud berbeda, pun juga dengan kebenaran yang dimaksud oleh Afi mungkin juga berbeda. "Usah melabeli orang masuk surga atau neraka sebab kita pun masih menghamba," kata Afi. Menurut saya, Afi ingin menyampaikan, "Jangan sampai kedengaran tetangga, cukup yakini (labeli) dalam hati saja." Ya, Afi ingin bilang begitu. Jika dalam hati tidak ada keyakinan akan masuk surga dengan menjalankan ajaran suatu agama, lalu buat apa memilih agama tersebut?
Latar belakang dari semua perselisihan adalah karena masing-masing warisan mengklaim, "Golonganku adalah yang terbaik karena Tuhan sendiri yang mengatakannya".

Lantas, pertanyaan saya adalah kalau bukan Tuhan, siapa lagi yang menciptakan para Muslim, Yahudi, Nasrani, Buddha, Hindu, bahkan ateis dan memelihara mereka semua sampai hari ini?

Tidak ada yang meragukan kekuasaan Tuhan. Jika Dia mau, Dia bisa saja menjadikan kita semua sama. Serupa. Seagama. Sebangsa.
Agak membingungkan juga yang dia tulis, mengingat Afi mengaku sebagai seorang muslim. Para Rasul mengajak umat yang beragama lain untuk memeluk agama yang dibawanya. Umat lain mengajak umat islam untuk ikut ajarannya, umat islam juga mengajak mereka. Mereka melakukan itu karena itu memang perintah Tuhan yang mereka yakini. Mungkin Afi belum sampai ke situ observasinya. Mungkin Afi belum tahu berapa jumlah mantan muslim/ah Indonesia yang sudah berhasil diajak ikut agama lain, pun sebaliknya?
Tidak ada yang meragukan kekuasaan Tuhan. Jika Dia mau, Dia bisa saja menjadikan kita semua sama. Serupa. Seagama. Sebangsa.
Kenapa Tuhan tidak melarang para Rasul menyebarkan ajarannya? Justru sebaliknya, malah diperintah.

Mungkin Afi ingin menyampaikan pada orang banyak di negeri ini, "Amalkan ajaran agama, tapi jangan membuat sakit hati orang lain". Mungkin Afi ingin orang paham ilmu komunikasi, bahwa ada hal-hal yang boleh disampaikan di ruang publik, ada hal-hal yang hanya boleh disampaikan di ruang komunal (komunitas sendiri), misalnya klaim buruk terhadap agama lain seperti sebutan domba tersesat, kafir, dsb.

Saya salut dengan keberanian Afi, cuma memang dalam menulis dan apapaun yang hendak kita lakukan, bukan hanya "KEBERANIAN" yang dijadikan landasan, tapi perlu juga mempertimbangkan manfaat dan mudhoratnya. Semoga tulisan Afi membawa lebih banyak manfaat daripada mudhorat.

Berikut tulisan lengkap Afi


WARISAN

Kebetulan saya lahir di Indonesia dari pasangan muslim, maka saya beragama Islam. Seandainya saja saya lahir di Swedia atau Israel dari keluarga Kristen atau Yahudi, apakah ada jaminan bahwa hari ini saya memeluk Islam sebagai agama saya? Tidak.

Saya tidak bisa memilih dari mana saya akan lahir dan di mana saya akan tinggal setelah dilahirkan.
Kewarganegaraan saya warisan, nama saya warisan, dan agama saya juga warisan.

Untungnya, saya belum pernah bersitegang dengan orang-orang yang memiliki warisan berbeda-beda karena saya tahu bahwa mereka juga tidak bisa memilih apa yang akan mereka terima sebagai warisan dari orangtua dan negara.
.
Setelah beberapa menit kita lahir, lingkungan menentukan agama, ras, suku, dan kebangsaan kita. Setelah itu, kita membela sampai mati segala hal yang bahkan tidak pernah kita putuskan sendiri.
.
Sejak masih bayi saya didoktrin bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar. Saya mengasihani mereka yang bukan muslim, sebab mereka kafir dan matinya masuk neraka.

Ternyata,

Teman saya yang Kristen juga punya anggapan yang sama terhadap agamanya. Mereka mengasihani orang yang tidak mengimani Yesus sebagai Tuhan, karena orang-orang ini akan masuk neraka, begitulah ajaran agama mereka berkata.

Maka,

Bayangkan jika kita tak henti menarik satu sama lainnya agar berpindah agama, bayangkan jika masing-masing umat agama tak henti saling beradu superioritas seperti itu, padahal tak akan ada titik temu.

Jalaluddin Rumi mengatakan, "Kebenaran adalah selembar cermin di tangan Tuhan; jatuh
dan pecah berkeping-keping. Setiap orang memungut kepingan itu,
memperhatikannya, lalu berpikir telah memiliki kebenaran secara utuh."
.
Salah satu karakteristik umat beragama memang saling mengklaim kebenaran agamanya. Mereka juga tidak butuh pembuktian, namanya saja "iman".

Manusia memang berhak menyampaikan ayat-ayat Tuhan, tapi jangan sesekali coba menjadi Tuhan. Usah melabeli orang masuk surga atau neraka sebab kita pun masih menghamba.
.
Latar belakang dari semua perselisihan adalah karena masing-masing warisan mengklaim, "Golonganku adalah yang terbaik karena Tuhan sendiri yang mengatakannya".

Lantas, pertanyaan saya adalah kalau bukan Tuhan, siapa lagi yang menciptakan para Muslim, Yahudi, Nasrani, Buddha, Hindu, bahkan ateis dan memelihara mereka semua sampai hari ini?
.
Tidak ada yang meragukan kekuasaan Tuhan. Jika Dia mau, Dia bisa saja menjadikan kita semua sama. Serupa. Seagama. Sebangsa.

Tapi tidak, kan?
.
Apakah jika suatu negara dihuni oleh rakyat dengan agama yang sama, hal itu akan menjamin kerukunan? Tidak!

Nyatanya, beberapa negara masih rusuh juga padahal agama rakyatnya sama.

Sebab, jangan heran ketika sentimen mayoritas vs. minoritas masih berkuasa, maka sisi kemanusiaan kita mendadak hilang entah kemana.
.
Bayangkan juga seandainya masing-masing agama menuntut agar kitab sucinya digunakan sebagai dasar negara. Maka, tinggal tunggu saja kehancuran Indonesia kita.
.
Karena itulah yang digunakan negara dalam mengambil kebijakan dalam bidang politik, hukum, atau kemanusiaan bukanlah Alquran, Injil, Tripitaka, Weda, atau kitab suci sebuah agama, melainkan Pancasila, Undang-Undang Dasar '45, dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika.

Dalam perspektif Pancasila, setiap pemeluk agama bebas meyakini dan menjalankan ajaran agamanya, tapi mereka tak berhak memaksakan sudut pandang dan ajaran agamanya untuk ditempatkan sebagai tolak ukur penilaian terhadap pemeluk agama lain. Hanya karena merasa paling benar, umat agama A tidak berhak mengintervensi kebijakan suatu negara yang terdiri dari bermacam keyakinan.
.
Suatu hari di masa depan, kita akan menceritakan pada anak cucu kita betapa negara ini nyaris tercerai berai bukan karena bom, senjata, peluru, atau rudal, tapi karena orang-orangnya saling mengunggulkan bahkan meributkan warisan masing-masing di media sosial.

Ketika negara lain sudah pergi ke bulan atau merancang teknologi yang memajukan peradaban, kita masih sibuk meributkan soal warisan.
.
Kita tidak harus berpikiran sama, tapi marilah kita sama-sama berpikir.
© Afi Nihaya Faradisa

__________________________________________________________________ __________________________________________________________________
4 Komentar Tulisan Afi Siswi SMA Banyuwangi soal Keberagaman Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Mas Sunardi

No comments:

Post a Comment